In Desain Grafis

Pop Art atau Seni pop merupakan seni yang berkembang di Amerika yang lahir akibat ketidakpuasan terhadap berkembangnya gaya Ekspresionisme yang melanda kaum akademis dan menempati kelas besar saat itu yang dianggap tidak memberikan sumbangan kepada masyarakat. Maka pandangan para tokoh penentang ekspresionisme Amerika seperti Andy Warhol, Leo Lisctenstein, Claes Oldenburg, Janes Rosenquiss mencoba melemparkan karya popnya terhadap publik secara besar-besaran lewat karya grafis kontemporernya, sebagai reaksi tidak puasnya pada gaya Ekspresionisme yang melanda budaya Amerika pada kala itu.

Jasper Johns: “Three Flags”, 1958. Encaustic di atas kanvas, 78,4 x 115 cm
Whitney Museum of American Art, New York. (Honour dan Fleming, 1991: 705)



Seni Pop mengingatkan kita pada seni realitas (bukan Realisme). Mengingatkan kita pada sesuatu yang telah akrab dengan kita namun sudah kita lupakan. Seni Pop di sisi lain mempopulerkan kepada masyarakat sesuatu yang berguna dan telah lama terlupakan seperti: sisi lingkungan yang kumuh, polusi pabrik yang menghantui kematian, kehidupan masyarakat kecil yang terlupakan, sejarah yang terlupakan, dan hal-hal yang sedang terlupakan mereka ingatkan kembali dalam bentuk kesenian. Namun sayangnya kadang hal semacam ini dianggap sebagai suatu kesenian yang memberi kritik yang tajam terhadap pemerintah, padahal sebenarnya mereka sekedar mengingatkan sesuatu yang terlupakan pada negara yang mereka cintai itu.

Seni Pop bukan mengharapkan hasil komoditas langsung tetapi yang diharapkan adalah hasil rangsang komunitas.


Marcel Duchamp: “The Bride Stripped bare by Her Bachelors, Even”, 1915-1921.
Cat dan kawat di atas kaca, 8’1 3/4 x 5’9 1/8″
Phila-delphia Museum of Art. (Brown, et al., 1979: 373)

Sumber: buku Seni Rupa Modern, Dharsono Sony Kartika

Recommended Posts

Leave a Comment

WhatsApp chat